Separuh Romadhan telah berlalu

Separuh Romadhan telah berlalu

Sabidaring.id, CIANJUR

Sejenak merenung di keheningan malam, terlintas di pikiran bahwa separuh Romadhan telah beralalu. Namun kala melirik mushaf al-Qur’an yang dibaca, ternyata tak kunjung beranjak khatam. Mengingat lagi sedekah selama ini, pun biasa dan tiada yang istimewa. Mengintrospeksi dengan shalat-shalat sunnah, tidak didapati tambahan masih seperti dulu di bulan-bulan bahkan tahun – tahun lalu.

Menyesal ? Itu pasti. Namun tidak boleh berputus asa. Lekas menutup akhir dengan kebajikan yang banyak, sebagai penentu proses hasil sebelumnya. Lekas bergegas bangkit menutupi kelalaian di separuh Romadhan yang telah berlalu. Dan Memanfaatkan sedikit kesempatan tersisa, karena ditakutkan separuh Romadhan telah berlalu dengan sia – sia.

Tidak terasa waktu pun terasa begitu cepat berlalu. Hari-hari yang dilewati telah menggoreskan catatan dalam lembaran-lembaran amal ini. Bahkan tidak ada yang tahu catatan hitam atau putihkah yang akan kita genggam nanti. Berharap, ketika didapati lembaran catatan hitam, Alloh segera menghapusnya menjadi putih kembali.

Terasa baru kemarin hari pertama puasa dan yang sangat di nanti-nantikan. Kesibukan saat sahur, dari awal saling membangunkan di antara anggota keluarga, rasa kantuk yang mengiringi disaat sedang makan, yang sering kali memunculkan kenangan yang tak terlupakan sepanjang masa. Kebahagiaan saat berbuka, berebutan makanan dan minuman dengan adik membuat rindu akan masa indah kebersamaan  bulan Romadhan. Rindu ini akan muncul dan menguat di bulan Romadhan, karena terulang saat – saat berkumpul dengan seluruh keluarga.

Namun waktu yang terus berjalan, hidup yang terus berubah dari hari ke hari, menghadirkan hal – hal baru kepada setiap manusia. Dan seperti sudah dijanjikan oleh waktu yang terus berputar, akan selalu ada hal – hal baru, namun juga ada beberapa yang hilang, atau bahkan pergi. Anak – anak yang harus berpisah dari ayah ibu dan saudaranya, pergi jauh dari rumahnya untuk menuntut ilmu. Yang lebih dewasa, lalu menikah dan memiliki keluarga sendiri. Ayah atau ibu yang harus merantau bekerja jauh di luar negeri. Atau seorang anggota keluarga yang harus pergi mendahului untuk selamanya. Perubahan – perubahan itu pasti akan terjadi di sekitar kita saat makan di saat sahur dan buka puasa di bulan Romadhan. Sedih, haru, karena kehilangan salah satu anggota keluarga, bercampur lega dan bahagia masih diberi kesempatan bertemu bulan kebersamaan yang sungguh mulia, mengaduk – aduk perasaan di dalam hati ini.

Datang dan pergi, pergi untuk kembali atau tidak sama sekali, di bulan Romadhan memang menjadi lebih terasa sekali. Karena Romadhan telah memberikan berjuta kenangan akan sebuah kenyamanan dan kebersamaan dalam keluarga, cinta dan kasih sayang antar sesama anggotanya, semangat berbagi yang tak didapati di bulan – bulan yang lainnya. Bukan hanya selalu tentang janji pahala yang berlipat ganda dalam setiap ibadah yang dilakukan. Bukan hanya tentang janji tempat di surga yang dipastikan oleh-Nya bagi yang berpuasa. Namun tentang bagaimana sebuah keluarga menikmati lapar, haus, susah, senang, dan berjuang bersama – sama. Tidak akan ada yang tahu apakah di tahun depan kita masih akan tinggal, berkumpul dengan orang – orang yang kita sayangi atau justru harus pergi, atau malah harus ditinggalkan oleh yang lainnya.

Romadhan merupakan bulan penuh kemuliaan karena Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya seluas-luasnya. Bulan dimana semua amal akan diterima, do’a kita akan diijabah dan bahkan tidurpun menjadi ibadah. Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi ketika bulan suci Romadhan telah benar-benar pergi. Ia hanya akan datang pada bulan Romadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada tahun yang akan datang nanti.

Sepuluh hari akhir Romadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Romadhan dengan kebaikan, dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan, merupakan turunnya lailatul qadar. Oleh sebab itu, di detik-detik romadhan ini, mari perbanyak ibadah dan amal sholeh terhadap sesama.

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak bisa di publikasi Required fields are marked *