Selalu Berbaik Sangka Pada Allah SWT

Selalu Berbaik Sangka Pada Allah SWT

Entah kenapa pagi ini ingin menulis tentang Berprasangka Baik (Postitive Thingking), ya karena memang ternyata sangat penting sekali memiliki Prasangka Baik. Prasangka baik pada sesama makhluk atau pada Allah sang Khalik.

Dalam tulisan kali ini saya ingin belajar berbagi tentang “PRASANGKA BAIK PADA ALLAH SWT”, semoga tulisan ini bermanfaat bagi temen-temen semua.

Ada sebuah hadits qudsi atau sering kita dengar bahwa :

“Aku (Allah) tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku”.

Maka timbul beberapa pertanyaan dari hadits ini atau keterangan ini :

Pertama, Apakah ketika seseorang berprasangka baik pada Allah akan mendapat rahmat-Nya lebih luas dibanding hukuman-Nya?

Kedua, bagaimana menyikapi hadits atau keterangan diatas?

Untuk menjawab kedua pertanyaan diatas maka kita perlu sekali kita mengetahui dan memahami hadits diatas secara utuh agar pemahamannya tidak simpang siur. Karena jika hanya memahami sampai “Allah bagaiamana prasangka hamba-Nya” itu akan menimbulkan rasa malas dalam diri ini, karena cukup berprasangka baik saja pada Allah tanpa usaha dan berbuat baik. Itu jelas kurang tepat. Benarkan?

Lantas gimana dong?

Mari kita sama-sama kaji lebih dalam hadits dibawah ini :

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Telah kita ketahui bahwa berprasangka baik pada Allah adalah suatu amal kebaikan, namun perlu dibarengi dengan perbuatan yang baik juga. Jangan hanya kita mengandalkan prasangka baik pada Allah tapi tidak ada usaha dalam artian ibadah kepada-Nya.

Jelas sekali hadits diatas, bahwa sesungguhnya ada kaitan erat antara Husnudzon (prasangka baik) kepada Allah dengan ketaatan kepada-Nya (Beramal). Jika sudah berprasangka baik maka akan timbul Ketaatan dalam beribadah pada Allah, karena seharusnya mendorong berbuat Ihsan dalam beramal.

Saya kutip pernyataan para ulama yaitu :

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad, hal. 402).

Ibnu Qayim rahimahullah berkata:

“Siapa yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan, akan mengetahui bahwa khusnuzhan kepada Allah adalah memperbaiki amal itu sendiri. Karena yang menjadikan amal seorang hamba itu baik, adalah karena dia memperkirakan Tuhannya akan memberi balasan dan pahala dari amalannya serta menerimanya. Sehingga yang menjadikan dia beramal adalah prasangka baik itu. Setiap kali baik dalam prasangkanya, masa semakin baik pula amalnya.”

Jelas sangat jelas sekali bahwa perlunya dibarengi antara prasangka baik pada Allah dengan ketaatan dalam amal ibadah. Jangan sampai kita hanya berangan-angan saja dalam prasangka baik pada Allah tanpa berbuat baik. Apalagi dibarengi dengan kemaksiatan, naudzubillah. Sama dengan kebodohan apabila kita hanya berangan-angan saja.­

Dan yang paling penting jangan sampai kita MATI dalam keadaan tidak berprasangka baik pada Allah.

Dari jabir radhiallahu anhu dia berkata, Aku mendengar Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tiga hari sebelum wafat bersabda:

”Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim, 2877)

Terus timbul pertanyaan, bagaimana baiknya?

Sebagai hamba yang selalu dapat kebaikan dari Allah, maka agar selalu timbul Husnudzon pada Allah maka kita harus mengingat semua kebaikan yang telah Allah berikan pada kita. Dari prasangka baik itu maka akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik lainnya terutama dalam ketaatan pada Allah. Dari Ketaatan itulah maka Allah akan selau mengabulkan apa yang terbaik bagi kita sebagai hamba-Nya.

Allah itu selalu memberikan yang terbaik pada hamba-Nya, walau terkadang hambanya justru selalu mengeluh. Maka hendaknya kita harus selalu tawakal dan percaya atas apa yang diberikan Allah pasti ada hikmahnya. Sebagaimana firman Allah swt :

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah: 216)

Dan perlu kita ketahui bahwa, prasangka baik kepada Allah memiliki keutamaan loh…diantaranya adalah :

1. Jauh dari ketakutan

“Dari Anas ra. sesungguhnya Nabi saw. masuk untuk menemui seorang pemuda yang sedang sakaratul maut, maka Rasulullah saw. bersabda: Bagaimana keadaanmu? Pemuda itu berkata, “Ya Rasulullah saw.! aku mengharapkan rahmat Allah dan aku sangat takut akan dosadosaku.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah takut dan roja berkumpul dalam hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini kecuali Allah akan memberikan kepadanya apa-apa yang diharapkannya, dan akan memberikan keamanan kepadanya dari perkara yang ditakutinya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, al-Mundziri berkata, “Hadits ini sananya hasan”).

Ini menunjukan bawha orang yang memiliki prasangka baik pada Allah SWT terlepas dari rasa takut karena hatinya telah yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik baginya.

2. Selalu dekat dengan Allah

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia berdzikir mengingat-Ku dalam suatu jama’ah, maka Aku akan sebut-sebut dia dalam jama’ah yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila ia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan jalan cepat.” (HR. Al-Bukhari).

3. Diampuni dosanya

Dari Annas RA ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman : “Wahai anak Adam!, sesungguhnya engkau selama berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu atas segala dosa-dosamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai anak Adam!, andaikata dosa-dosamu sampai ke langit kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberikan ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam!, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku, tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR. at- Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan”)

4. Ibadah yang baik

Sebagaimana sabda Rasul :

“Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah” (HR. Abu Daud).

Berbaik sangka pada Allah adalah merubakan amal yang baik.

5. Terhindar dari keburukan di akhirat

Dari Fadhalah bin Abid, dari Rasulullah SAW. ia bersabda:

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya di hari kiamat yaitu, Manusia yang mencabut selendang Allah. Sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-Izzah (keperkasaan); Manusia yang meragukan perintah Allah; Dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah. (HR. Ahmad, ath-Thabrâni, dan al-Bazzâr. al-Haitsami berkata, “Perawinya terpercaya.” al-Bukhâri dalam kitab al-Adab, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)

Tidak akan ditanya dan pasti masuk neraka

6. Terhindar dari dosa besar dalam Islam

Dari Ibnu Abbas, ada seorang lelaki berkata, “Ya Rasulullah saw.! apa dosa besar itu?” Rasulullah saw. bersabda: Dosa besar itu adalah musyrik kepada Allah, putus asa dari karunia Allah, dan putus harapan dari rahmat Allah. (al-Haitsami berkata, “Telah diriwayatkan oleh al-Bazzâr dan ath- Thabrâni para perawinya terpercaya.” As-Suyuti dan al-Iraqi menghasankan hadits ini)

7. Mendapat rahmat Allah

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(Q.S. Al A’raaf:56)

8. Lebih Optimis

Bagi orang-orang yang selalu mempunyai prasangka baik pada Allah SWT mereka sangat optimis dalam menjalani dan menata kehidupannya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al Baqarah:112)

9. Menjadi pribadi yang ikhlas

”Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” ( Q.S. At Taubah: 59)

Itulah beberapa keutamaan dari berprasangka baik pada Allah SWT. Sudah seharusnya menanamkan prasangka baik ini dalam diir dan hati kita karena kita adalah Hamba-Nya.

Terakhir,

Sebagaimana sabda Rasul :

Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau bersabda: Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah merahmati kita semua. Ammin

Sumber :

Ceramah AA Gym
https://islamqa.info
https://dalamislam.com
Join Chanel Telegram Sabidaring Corporation

Klik >> DISINI <<

Tinggalkan Komentar Anda

Email Anda tidak bisa di publikasi Required fields are marked *